Dalam musnad imam Ahmad disebutkan sebuah
hadist yang menyatakan bahwa jumlah nabi adalah 124000 dan jumlah rasul 315
dari jumlah nabi tersebut. Nabi adalah manusia pilihan yang menerima wahyu dan
tidak diperintahkan untuk menyampaikan wahyu, sedangkan rasul diperintahkan
untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya. Setiap rasul pasti nabi tetapi belum
tentu seorang nabi adalah rasul.
Diantara sekian
banyak jumlah nabi dan rasul hanya sekitar 25 rasul dan beberapa nabi saja yang
diceritakan dalam Al-Qur’an, itupun ada yang diceritakan secara detail dan
adapula yang hanya disebut namanya tanpa ada cerita.
Dari sekian banyak
cerita, cerita mengenai nabi ibrahim adalah cerita yang paling lengkap. Mulai
dari masa kecil hingga akhir hayat beliau. Beliau adalah satu diantara dua nabi
yang medapat julukan sebagai kholilullah. Sebagai bukti adalah banyaknya nama
beliau yang termaktub dalam Al-Qur’an serta secara khusus Allah menerangkan
dalam surat An-Nisa’ ayat 125
“dan siapakah yang lebih baik agamanya dari
pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun
mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah
mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”
Nabi
Ibrahim adalah sosok yang telah sukses mendidik keluarga, sehingga lahirlah
nabi Ismail AS, seorang anak yang rela disembelih oleh ayahnya demi menaati
perintah rabb semesta alam. Pun hajar, istri beliau yang sangat tabah, rela dan
ikhlas ketika dirinya ditinggal nabi Ibrahim di padang pasir yang gersang,
sepi, dan tiada penghuni, dan berkat kesabaran dan ketabahan beliau jadilah
tempat itu kota terhebat dan bersejarah di seluruh dunia.
Pati
terbetik dibenak kita, apa yang beliau ajarkan kepada keluarganya dan
bagaimana. Pokok-pokok pembelajaran yang diajarkan nabi ibrahim terdiri dari 3
pokok :
1.
Tauhid &
Aqidah
Tidak bisa dipungkiri bahwa tujuan dari diutusnya setiap
rasul adalah untuk menyampaikan tauhid kepada umatnya masing-masing. Di dalam
Al-Qur’an pun pembahasan seputar tauhid memiliki porsi 1/3 dari seluruh isi
Al-Qur’an, yaitu Tauhid (1/3), hukum-hukum(1/3), serta kisah-kisah(1/3). Bahkan
beberapa ulama’ mengatakan bahwa Al-Qur’an semuanya berisi tauhid. Karena pada
dasarnya hukum-hukum adalah realisasi dari tauhid itu sendiri(Tauhid Uluhiyyah)
dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah kisah para manusia yang ber tauhid dan
apa saja kenikmatan yang mereka dapatkan serta kisah para penentang tauhid dan
kesengsaraan apa yang mereka dapatkan karenanya.
Termasuk
salah satu cara penanaman tauhid kepada anak adalah dengan dialog-dialog
sederhana seperti “kita akan beli itu jika Allah memberi rezeki kepada kita
nak” atau hal-hal semacamnya yang bertujuan memberika pengertian kepada anak
tentang kebesaran dan kekuasaan Allah.
2.
Ibadah dan
Tazkiyatun Nafs
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa salah satu doa nabi
ibrahim ketika beliau meninggalkan Hajar dan Ismail AS di padang pasir.
“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah
menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman
di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu)
agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung
kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka
bersyukur” (Ibrahim : 37)
Bahkan beliau lebih mengutamakan do’a mengenai ibadah dari pada
mendapat makanan yang ketika dikondisi itu sangat diperlukan. Menunjukan
pentingnya penanam Ibadah kepada keluarga.
Tazkiyatun Nafs adalah penyucian jiwa, dan
yang dimaksud jiwa disini adalah hati. Sampai-sampai Allah bersumpah 7x dalam
Q.S As-Syams sebelum membahas mengenai hati.
“demi matahari dan cahayanya di
pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya,
dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta
penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)”
3.
Akhlaq Mulia
Sangat banyak nash-nash yang menunjukkan
kemuliaan akhlaq nabiyuna Ibrahim AS, diantaranya
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang
baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka
berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu
dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan
telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada
bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan
aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim
berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya
kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali."
Bisa
kita ketahui kemuliaan akhlaq nabi ibrahim dr ayat diatas, beliau tetap bertutr
kata yang baik kepada ayahnya sekalipun ayah beliau musyrik, bahkan beliau
ingin mendo’akan ayahnya (yang kemudian ditegur oleh Allah, tidak boleh
mendo’akan orang musyrik)
Hal-hal
diatas adalah inti dari semua pembelajaran yang Nabi ibrahim berikan kepada
keluarganya, sehingga jadilah seorang Ismail anak yang sangat taat, dan Hajar
istri yang sangat tabah.
Selain
materi/pembelajaran, juga diperlukan metodeologi yang tepat dalam mendidik
keluarga. Begitu pula yang dicontohkan nabi ibrahim, beliau memiliki
metodeologi dalam mendidik keluarganya, diantaranya :
1. Al-Qudwah wal Quswah (Contoh dan Keteladanan)
Memberikan
contoh dan keteladanan adalah aspek yang sangat penting dalam pendidikan,
karena seorang anak yang sering melihat perilaku-perilaku baik akan terkesan di
hati dan kemudian terbawa ke perilaku anak. Kita lihat disekeliling kita, ada
anak usia 6 tahun yang sudah hafal Al-Qur’an, dan ternyata dia hafal karena
sering melihat orang tuanya menghafal juga. Pun sebaliknya, ada anak usia 6
tahun yang hafal puluhan lagu-lagu, dan ternyata dia hafal karena orang tuanya
sering mendengarkan lagu-lagu tersebut.
- Nasehat
Kita
tahu bahwa agama adalah nasehat, begitu pun dalam metodeologi pendidikan,
nasehat sangat diperlukan untul meluruskan kembali perilaku anak yang mungkin
mulai melenceng. Sebuah teori psikologi mengatakan “kebohongan yang
didengungkan secara terus-menerus akan menjadi sebuah kebenaran, sampai-sampai
orang yang mendengungkan kebohongan percaya bahwa itu adalah kebenaran”. Maka
dari itu, wajibnya kita senantiasa menasehati (entah didengar entah tidak)
karena semakin sering kita menasehati seseorang semakin dia akan percaya
nasehat kita.
3 - Dialog
Komunikasi
dua arah terbukti sangat efektif dalam pendidikan, karena anak akan merasa
suaranya didengar dan diakui. Sebagaimana firman Allah tentang dialog nabi
ibrahim dan islamil dalam Q.S As-Shaffat : 102
“Maka tatkala anak itu sampai
(pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai
anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah
apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk
orang-orang yang sabar”
- Do’a
Do’a
merupakan aspek terpenting dalam setiap usaha seorang mukmin. Bahkan nabi
ibrahim juga berdo’a untuk keturunanya sebagaimana ayat yang telah dinukil
diatas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar