Rabu, 12 Oktober 2016

Kesuksesan Nabi Ibrahim Mendidik Keluarga


Dalam musnad imam Ahmad disebutkan sebuah hadist yang menyatakan bahwa jumlah nabi adalah 124000 dan jumlah rasul 315 dari jumlah nabi tersebut. Nabi adalah manusia pilihan yang menerima wahyu dan tidak diperintahkan untuk menyampaikan wahyu, sedangkan rasul diperintahkan untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya. Setiap rasul pasti nabi tetapi belum tentu seorang nabi adalah rasul.
Diantara sekian banyak jumlah nabi dan rasul hanya sekitar 25 rasul dan beberapa nabi saja yang diceritakan dalam Al-Qur’an, itupun ada yang diceritakan secara detail dan adapula yang hanya disebut namanya tanpa ada cerita.
Dari sekian banyak cerita, cerita mengenai nabi ibrahim adalah cerita yang paling lengkap. Mulai dari masa kecil hingga akhir hayat beliau. Beliau adalah satu diantara dua nabi yang medapat julukan sebagai kholilullah. Sebagai bukti adalah banyaknya nama beliau yang termaktub dalam Al-Qur’an serta secara khusus Allah menerangkan dalam surat An-Nisa’ ayat 125
 “dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”
Nabi Ibrahim adalah sosok yang telah sukses mendidik keluarga, sehingga lahirlah nabi Ismail AS, seorang anak yang rela disembelih oleh ayahnya demi menaati perintah rabb semesta alam. Pun hajar, istri beliau yang sangat tabah, rela dan ikhlas ketika dirinya ditinggal nabi Ibrahim di padang pasir yang gersang, sepi, dan tiada penghuni, dan berkat kesabaran dan ketabahan beliau jadilah tempat itu kota terhebat dan bersejarah di seluruh dunia.
Pati terbetik dibenak kita, apa yang beliau ajarkan kepada keluarganya dan bagaimana. Pokok-pokok pembelajaran yang diajarkan nabi ibrahim terdiri dari 3 pokok :
1.       Tauhid & Aqidah
Tidak bisa dipungkiri bahwa tujuan dari diutusnya setiap rasul adalah untuk menyampaikan tauhid kepada umatnya masing-masing. Di dalam Al-Qur’an pun pembahasan seputar tauhid memiliki porsi 1/3 dari seluruh isi Al-Qur’an, yaitu Tauhid (1/3), hukum-hukum(1/3), serta kisah-kisah(1/3). Bahkan beberapa ulama’ mengatakan bahwa Al-Qur’an semuanya berisi tauhid. Karena pada dasarnya hukum-hukum adalah realisasi dari tauhid itu sendiri(Tauhid Uluhiyyah) dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah kisah para manusia yang ber tauhid dan apa saja kenikmatan yang mereka dapatkan serta kisah para penentang tauhid dan kesengsaraan apa yang mereka dapatkan karenanya.
        Termasuk salah satu cara penanaman tauhid kepada anak adalah dengan dialog-dialog sederhana seperti “kita akan beli itu jika Allah memberi rezeki kepada kita nak” atau hal-hal semacamnya yang bertujuan memberika pengertian kepada anak tentang kebesaran dan kekuasaan Allah.
2.       Ibadah dan Tazkiyatun Nafs
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa salah satu doa nabi ibrahim ketika beliau meninggalkan Hajar dan Ismail AS di padang pasir.
 “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur” (Ibrahim : 37)
Bahkan beliau lebih mengutamakan do’a mengenai ibadah dari pada mendapat makanan yang ketika dikondisi itu sangat diperlukan. Menunjukan pentingnya penanam Ibadah kepada keluarga.
Tazkiyatun Nafs adalah penyucian jiwa, dan yang dimaksud jiwa disini adalah hati. Sampai-sampai Allah bersumpah 7x dalam Q.S As-Syams sebelum membahas mengenai hati.
 “demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)”

3.       Akhlaq Mulia
Sangat banyak nash-nash yang menunjukkan kemuliaan akhlaq nabiyuna Ibrahim AS, diantaranya
 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali."
        Bisa kita ketahui kemuliaan akhlaq nabi ibrahim dr ayat diatas, beliau tetap bertutr kata yang baik kepada ayahnya sekalipun ayah beliau musyrik, bahkan beliau ingin mendo’akan ayahnya (yang kemudian ditegur oleh Allah, tidak boleh mendo’akan orang musyrik)

Hal-hal diatas adalah inti dari semua pembelajaran yang Nabi ibrahim berikan kepada keluarganya, sehingga jadilah seorang Ismail anak yang sangat taat, dan Hajar istri yang sangat tabah.
Selain materi/pembelajaran, juga diperlukan metodeologi yang tepat dalam mendidik keluarga. Begitu pula yang dicontohkan nabi ibrahim, beliau memiliki metodeologi dalam mendidik keluarganya, diantaranya :
1.       Al-Qudwah wal Quswah (Contoh dan Keteladanan)
Memberikan contoh dan keteladanan adalah aspek yang sangat penting dalam pendidikan, karena seorang anak yang sering melihat perilaku-perilaku baik akan terkesan di hati dan kemudian terbawa ke perilaku anak. Kita lihat disekeliling kita, ada anak usia 6 tahun yang sudah hafal Al-Qur’an, dan ternyata dia hafal karena sering melihat orang tuanya menghafal juga. Pun sebaliknya, ada anak usia 6 tahun yang hafal puluhan lagu-lagu, dan ternyata dia hafal karena orang tuanya sering mendengarkan lagu-lagu tersebut.
                   -   Nasehat
Kita tahu bahwa agama adalah nasehat, begitu pun dalam metodeologi pendidikan, nasehat sangat diperlukan untul meluruskan kembali perilaku anak yang mungkin mulai melenceng. Sebuah teori psikologi mengatakan “kebohongan yang didengungkan secara terus-menerus akan menjadi sebuah kebenaran, sampai-sampai orang yang mendengungkan kebohongan percaya bahwa itu adalah kebenaran”. Maka dari itu, wajibnya kita senantiasa menasehati (entah didengar entah tidak) karena semakin sering kita menasehati seseorang semakin dia akan percaya nasehat kita.
3                -   Dialog
Komunikasi dua arah terbukti sangat efektif dalam pendidikan, karena anak akan merasa suaranya didengar dan diakui. Sebagaimana firman Allah tentang dialog nabi ibrahim dan islamil dalam Q.S As-Shaffat : 102
 “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”
                  -   Do’a
Do’a merupakan aspek terpenting dalam setiap usaha seorang mukmin. Bahkan nabi ibrahim juga berdo’a untuk keturunanya sebagaimana ayat yang telah dinukil diatas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar